
Pernah nggak kamu menggantung sebuah keputusan penting berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Kamu sering beralasan, “Aku belum ngambil keputusan karena masih menimbang-nimbang pilihan,” atau “Aku masih butuh waktu buat riset dan mikir lebih matang.” Kamu memakai tameng “butuh waktu” untuk membenarkan tindakan kamu yang terus-menerus menunda. Tapi kalau kamu berani jujur dan mau menguliti lapisan gengsi itu, kenyataannya justru kebalikan. Kamu menunda bukan karena kamu belum tahu jawabannya.
Jauh di dalam lubuk hati, kamu sudah tahu persis apa yang ingin kamu lakukan. Kamu sudah tahu ke mana hati ini ingin melangkah, keputusan finansial apa yang harus diambil, atau hubungan mana yang harus disudahi.
Satu-satunya hal yang menahan kaki kamu adalah ketakutan setengah mati akan skenario yang terjadi setelah keputusan itu diketuk. Takut kalau ternyata langkah kamu salah, takut dicap gagal, atau takut melihat gurat kekecewaan di wajah orang-orang yang kamu sayangi. Pada akhirnya, volume suara ketakutan itu menggema begitu keras di dalam kepala, sampai-sampai suara keinginan asli kamu yang jujur teredam dan kalah telak. Kamu memilih lumpuh di tempat daripada bergerak tapi berisiko terluka.
Membuka Ruang Tanpa Ketakutan
Hari ini kamu menandai akhir dari sepertiga perjalanan refleksi 30 hari kamu. Untuk merayakan Hari ke-10, format refleksi kali ini akan menggunakan pendekatan “Simulasi Realitas Alternatif”.
Kamu akan melakukan eksperimen pikiran (thought experiment). Bayangkan malam ini semua konsekuensi buruk yang kamu takuti itu mendadak menguap dari muka bumi. Tidak ada risiko gagal, tidak ada penilaian orang lain, dan tidak ada kata salah langkah. Dunia sepenuhnya aman untuk setiap keputusanmu.
Dalam kondisi yang super aman dan bebas itu, mari tanyakan ini pada jiwamu yang terdalam:
Apa keputusan atau pilihan hidup yang mungkin sudah kamu ambil sejak lama, jika saja rasa takut itu tidak pernah ada di dalam kepalamu?
Sebelum kamu menumpahkan isi kepalamu, biarkan pikiranmu menelusuri sudut-sudut ini:
- Di Bidang Karier/Karya: Apakah ada proyek, bisnis sampingan, atau arah karier impian yang selama ini cuma berani kamu bayangkan di dalam mimpi karena takut tidak laku atau dianggap remeh?
- Di Bidang Finansial: Apakah ada keputusan besar seperti mulai berinvestasi pada tokomu sendiri, menyisihkan dana untuk mandiri, atau berhenti membiayai gaya hidup orang lain yang terus kamu tunda karena cemas akan hari esok?
- Di Bidang Relasi/Diri: Apakah ada batasan tegas (boundaries) yang sudah lama ingin kamu ucapkan kepada seseorang, tapi tertahan karena takut dibilang berubah atau jahat?
Menuliskan pilihan ini bukan berarti kamu harus langsung nekat melakukannya besok pagi. Eksperimen ini adalah cara untuk memvalidasi keinginan tokomu yang asli, memisahkannya dari kabut kecemasan yang selama ini mengaburkan pandanganmu. Kamu berhak tahu apa yang beneran kamu mau.
Biarkan keinginan aslimu menari bebas di atas kertas malam ini. Selamat beristirahat, dan mari peluk dirimu dengan penuh keberanian.
Pingback: Pernah Nggak Sih, Ngerasa Udah Melakukan Segalanya dengan Benar Tapi Tetep Ngerasa “Kosong”? – Early Finance