mardatillaf

Hari 13: Menghitung Aliran Sungai Waktu yang Telah Berlalu

Seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali, pernah meninggalkan sebuah peringatan yang sangat menohok bagi jiwa kamu “Jika kamu tidak mengatur waktumu dengan baik, maka waktulah yang akan mengatur dan menghancurkanmu.” Quote ini bukan sekadar kalimat motivasi untuk membuat kamu panik atau merasa dikejar-kejar target. Ini adalah sebuah kebenaran absolut tentang realitas hidup. Waktu yang sudah berlalu …

Hari 13: Menghitung Aliran Sungai Waktu yang Telah Berlalu Read More »

Hari 12: Mendengar Bisikan Jujur dari Balik Air Mata

Ada sebuah beban tak kasat mata yang sering kali dipikul sendirian oleh banyak perempuan, yaitu kebiasaan untuk memendam rasa sakit. Kamu memilih menelan bulat-bulat kekecewaan, menyembunyikan sesak di dada di balik senyuman, dan mengunci rapat-rapat air mata. Semua itu kamu lakukan hanya karena satu ketakutan yang menghantui, takut dianggap berlebihan, takut dibilang terlalu sensitif, atau …

Hari 12: Mendengar Bisikan Jujur dari Balik Air Mata Read More »

Hari 11: Seni Melepaskan, Cara Terbaik Menemukan yang Benar-Benar Berharga

Ada masanya kamu hidup dengan mentalitas “kolektor”. Kamu mengumpulkan target, mengejar rencana yang ambisius, membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, dan merasa bahwa diri kamu baru “bernilai” jika daftar centang di hidup kamu sudah penuh. Kamu berlari sangat kencang, takut ketinggalan, dan yakin bahwa semakin besar atau sulit sesuatu didapatkan, maka semakin berharga pula hal …

Hari 11: Seni Melepaskan, Cara Terbaik Menemukan yang Benar-Benar Berharga Read More »

Hari 10: Ketika Penundaan Adalah Topeng dari Rasa Takut

Pernah nggak kamu menggantung sebuah keputusan penting berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Kamu sering beralasan, “Aku belum ngambil keputusan karena masih menimbang-nimbang pilihan,” atau “Aku masih butuh waktu buat riset dan mikir lebih matang.” Kamu memakai tameng “butuh waktu” untuk membenarkan tindakan kamu yang terus-menerus menunda. Tapi kalau kamu berani jujur dan mau menguliti lapisan gengsi itu, …

Hari 10: Ketika Penundaan Adalah Topeng dari Rasa Takut Read More »

Hari 9: Memahat Identitas Baru dan Rasa Asing yang Mengikutinya

Ada satu fakta kehidupan yang mutlak dan tidak akan pernah bisa kamu negosiasikan, yaitu kamu tidak pernah bisa memilih atau memesan (request) dari keluarga mana kamu dilahirkan. Kamu tidak bisa memilih struktur genetik, bentuk badan yang dianggap ideal oleh dunia, atau rupa wajah yang kamu miliki saat pertama kali melihat cermin. Semua itu adalah kartu …

Hari 9: Memahat Identitas Baru dan Rasa Asing yang Mengikutinya Read More »

Hari 8: Saat Niat Baik Orang Lain Malah Terasa Menyesakkan

Ada sebuah lingkaran niat baik yang sering kali berubah menjadi ruang yang menyesakkan. Sebagai anak, kamu pasti tahu betul bahwa setiap orang tua selalu mendambakan kehidupan anaknya jauh lebih baik, lebih mulus, dan lebih sukses daripada masa lalu yang pernah mereka lalui. Dengan tujuan mulia tersebut, mereka berusaha mati-matian memenuhi segala kebutuhan kamu. Bahkan, saking …

Hari 8: Saat Niat Baik Orang Lain Malah Terasa Menyesakkan Read More »

Hari 7: Menemukan Sumber Suara “Cemas” Saat Mengeluarkan Uang

Sebagai teman cerita para perempuan, ada satu pola yang paling sering mampir di ruang obrolan. Pola di mana setiap kali menggesek kartu, membayar tagihan, atau sekadar check-out barang yang beneran dibutuhin, selalu ada gelombang rasa tidak nyaman yang tiba-tiba datang menyerang. Ada rasa bersalah yang mengganjal, disusul bisikan ketakutan yang bikin deg-degan “Gimana kalau uangku …

Hari 7: Menemukan Sumber Suara “Cemas” Saat Mengeluarkan Uang Read More »

Hari 6: Dilema Angka di Rekening dan Panggilan Hati yang Terbungkam

Pernah nggak kamu duduk di depan meja kerja, menatap deretan angka di layar laptop, lalu tiba-tiba dadamu terasa sesak? Banyak perempuan yang terjebak dalam realitas ini: bertahan di sebuah pekerjaan hanya demi mengejar sejumlah nominal di akhir bulan. Sebuah pilihan yang diambil atas dasar keterpaksaan, tuntutan cicilan, atau sekadar ekspektasi lingkungan agar terlihat “mapan”. Namun, …

Hari 6: Dilema Angka di Rekening dan Panggilan Hati yang Terbungkam Read More »

Hari 5: Sebuah Surat Apresiasi untuk Jiwa yang Mau Bertahan

Sebelum kamu membaca baris pertama artikel ini, coba ambil waktu tiga detik untuk menepuk pundakmu sendiri. Katakan dalam hati “Terima kasih sudah bertahan dan melangkah sejauh ini”. Kamu sering kali terlalu pelit memberikan apresiasi kepada diri sendiri. Kamu sangat fasih merayakan ulang tahun teman, mengagumi pencapaian karier orang lain, atau memuji keberhasilan role model kamu …

Hari 5: Sebuah Surat Apresiasi untuk Jiwa yang Mau Bertahan Read More »

Hari 4: Terjebak di Ruang yang Sesak, Mengapa Keluar Terasa Begitu Menakutkan?

Pernah nggak kamu ada di titik di mana rasanya pengen banget menekan tombol resign saat itu juga? Tekanan kerja di korporasi lagi tinggi-tingginya, beban kerja menumpuk tanpa ampun, dan di dalam hati kamu tahu pasti: “Ini bukan karier impianku.” Kamu mendambakan sebuah kesempatan baru, tempat di mana potensimu benar-benar dihargai dan duniamu terasa lebih hidup. …

Hari 4: Terjebak di Ruang yang Sesak, Mengapa Keluar Terasa Begitu Menakutkan? Read More »