
Pernah nggak kamu ada di titik di mana rasanya pengen banget menekan tombol resign saat itu juga? Tekanan kerja di korporasi lagi tinggi-tingginya, beban kerja menumpuk tanpa ampun, dan di dalam hati kamu tahu pasti: “Ini bukan karier impianku.” Kamu mendambakan sebuah kesempatan baru, tempat di mana potensimu benar-benar dihargai dan duniamu terasa lebih hidup. Tapi anehnya, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berlalu, draf surat pengunduran diri itu cuma mengendap di laptop. Kamu masih bertahan di kubikel yang sama, mengeluhkan hal yang sama setiap hari Senin.
Kenyatannya, kamu merasa tertahan bukan karena tidak ada peluang di luar sana. Kamu bertahan karena mendadak isi kepala kamu dipenuhi oleh skenario yang mencemaskan, “Gimana kalau lingkungan barunya nanti lebih melelahkan? Gimana kalau aku nggak bisa nyambung sama rekan kerja yang baru? Capek banget harus penyesuaian dari nol lagi, belajar sistem baru lagi, ketemu tantangan yang belum pernah kuhadapi sebelumnya”.
Kalau ditarik garis lurus, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu bukan takut gagal, kamu hanya sedang ketakutan setengah mati untuk keluar dari zona nyaman.
Zona nyaman itu jebakan yang unik. Dia nggak selalu berupa tempat yang menyenangkan atau bikin bahagia. Seringkali, zona nyaman adalah tempat yang menyiksa dan bikin sesak, tapi terasa “aman” hanya karena kamu sudah familier dengan rasa sakitnya. Kamu lebih memilih menghadapi penderitaan yang sudah kamu hafal polanya setiap hari, daripada harus bertaruh menghadapi ketidakpastian di luar sana, meskipun di luar sana ada peluang untuk bahagia.
Jeda Sejenak Malam Ini
Malam ini, kamu perlu letakkan dulu semua berkas pekerjaan, matikan laptopmu, dan jadikan lembar ini sebagai ruang untuk jujur pada dirimu sendiri. Tanyakan ini tanpa ada yang ditutup-tutupi:
Saat kamu ingin mendapatkan karier yang baru atau kesempatan yang baru, apa yang paling kamu takutkan untuk berubah?
Coba urai kecemasan itu sebelum mulai menulis:
- Apakah kamu takut kehilangan validasi dan posisi yang sudah susah payah kamu bangun di tempat sekarang?
- Apakah kamu takut menghadapi proses adaptasi dengan orang-orang baru yang menguras energi sosialmu?
- Ataukah kamu sebenarnya takut menghadapi ketidakpastian dan perubahan ritme hidup yang baru?
Rasa takut itu sangat manusiawi, ia adalah alarm alami tubuhmu saat mendeteksi adanya perubahan. Tapi, jangan biarkan alarm itu mengunci pintumu selamanya. Kesempatan baru selalu menuntut versi dirimu yang baru.
Begitu kamu berani menuliskan dan menatapnya langsung, ketidakpastian ternyata tidak semengerikan itu. Selamat malam, selamat beristirahat, dan peluk rasa takut itu sebagai bagian dari perjalanan.
Pingback: Pernah Nggak Sih, Ngerasa Udah Melakukan Segalanya dengan Benar Tapi Tetep Ngerasa “Kosong”? – Early Finance