
Sebelum kamu membaca baris pertama artikel ini, coba ambil waktu tiga detik untuk menepuk pundakmu sendiri. Katakan dalam hati “Terima kasih sudah bertahan dan melangkah sejauh ini”.
Kamu sering kali terlalu pelit memberikan apresiasi kepada diri sendiri. Kamu sangat fasih merayakan ulang tahun teman, mengagumi pencapaian karier orang lain, atau memuji keberhasilan role model kamu di media sosial. Namun, saat diri kamu sendiri berhasil melewati malam-malam yang riuh, menatap ketakutan di zona nyaman, dan memilih untuk tetap melangkah, kamu malah menganggapnya sebagai “hal biasa yang memang sudah seharusnya”.
Padahal, perjalanan menjelajah diri selama lima hari terakhir ini bukanlah hal yang mudah. Membuka luka yang sengaja ditutupi, mengakui masalah yang selama ini dihindari, dan jujur tentang rasa takut bukanlah konsumsi mental orang yang lemah. Kamu ada di sini, membaca lembar ini, artinya kamu adalah jiwa yang berani.
Melalui proses melambat ini, pelan-pelan tabir di dalam kepala kamu mulai terbuka. Mungkin beberapa dari kamu mulai mendapatkan aha-moment tentang makna keberadaan kamu untuk apa, meraba apa misi penciptaan kamu yang sesungguhnya, dan mulai tahu ke mana kaki ini harus melangkah ke depannya.
Jeda Sejenak Malam Ini
Malam ini, kamu tidak akan mengurai kerumitan atau menginterogasi ketakutan. Format malam ini sepenuhnya adalah tentang perayaan dan ruang bagi kebijaksanaan tokomu sendiri untuk berbicara.
Jadikan ruang jurnal kelima ini sebagai cermin yang bersih, lalu jawablah pertanyaan ini dengan senyuman kecil di bibirmu:
Selamat untuk pencapaian dan proses bertumbuhmu sejauh ini. Jika ada satu hal yang paling bermakna buat kamu saat ini, apa hal berharga yang sedang kamu pelajari dari dirimu selama ini?
Coba ingat-ingat lagi caramu menghadapi badai hidup belakangan ini sebelum menulis:
- Apakah kamu baru menyadari kalau ternyata kamu adalah orang yang jauh lebih tangguh dari yang kamu duga selama ini?
- Apakah kamu sedang belajar bahwa tidak apa-apa untuk berkata “tidak” demi menjaga kedamaian jiwamu?
- Atau mungkin, kamu sedang belajar untuk lebih lembut dan memaafkan kesalahan-kesalahan masa lalumu?
Tuliskan pelajaran paling bermakna itu. Biarkan tulisanmu menjadi bukti autentik bahwa kamu tidak pernah berjalan di tempat. Kamu sedang bertumbuh dan pelan-pelan pulang ke pelukan dirimu yang sejati.
Selamat malam, jiwa yang hebat. Selamat beristirahat dalam pelukan rasa syukur yang penuh.
Pingback: Pernah Nggak Sih, Ngerasa Udah Melakukan Segalanya dengan Benar Tapi Tetep Ngerasa “Kosong”? – Early Finance